DAFTAR ISI
Halaman
Halaman
Pengesahan……………………………………………………………………..
Halaman
Judul……………………………………………………………………………
Kata
Pengantar……………………………………………………………………………
Halaman
Moto……………………………………………………………………………
Halaman
Persembahan……………………………………………………………………
Daftar
Isi…………………………………………………………………………………
BAB
I PENDAHULUAN………………………………………………………
1.1 Latar
Belakang Masalah……………………………………………..
1.2 Tujuan
Penulisan……………………………………………………..
1.3 Metode
Pengumpulan Data………………………………………….
1.4 Sistematika
Penulisan………………………………………………..
BAB
II LANDASAN TEORI…………………………………………………...
BAB
III PEMBAHASAN MASALAH…………………………………………..
3.1 Tanah Lot……………………………………………………………
3.2 Tanjung Benua………………………………………………………
3.3 Puja Mandala………………………………………………………..
3.4 Garuda Wisnu Kencana……………………………………………..
3.5 Dewata Art Shop……………………………………………………
3.6 Pantai Sanur…………………………………………………………
3.7 Pasar Seni Sukowati…………………………………………………
3.8 Cah Ayu…………………………………………………………….
3.9 Pantai Kuta…………………………………………………………
3.10 Sangeh…………………………………………………………….
3.11 Bedugu……………………………………………………………
BAB
IV PENUTUP
4.1 Simpulan……………………………………………………………
4.2 Saran……………………………………………………………….
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
Sejarah Pulau Bali
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik
yang terletak di bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya
ajaran Hindu dan tulisan Bahasa Sanskerta dari India pada 100 SM.
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat
kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa
(pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri
Kesari Warmadewa pada
913 M dan menyebutkan
kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai
dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada
masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau
Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain
menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis dan
masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali
ialah Cornelis
de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat
tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus
mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali
tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara
Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang
awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak
mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan
darat terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang
kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena
menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai titk darah penghabisan
atau perang
puputan yang
melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang
tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka
untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya
sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal
terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira militer
bernama I
Gusti Ngurah Rai
membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di
Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk
Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan
sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu
menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1945, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah
Rai yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk
melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap.
Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya dan menjadikannya sebagai
perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah
satu dari 13 wilayah bagian dari Negara
Indonesia Timur yang
baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai
oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke
dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29
Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan
secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.
Letusan Gunung Agung yang terjadi pada tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak
penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di
Indonesia.
Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta,
di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan
simpatisan Partai
Komunis Indonesia. Di
Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun
demikian, kejadian-kejadian pada masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum
berhasil diungkapkan secara hukum.[5]
Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas
dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai
Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas
karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing dan menyebabkan industri
pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.
Senjata Khas Pulau Bali

Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Patung
Garuda Wisnu Kencana berlokasi di Bukit Unggasan – Jimbaran, Bali. Patung ini
merupakan karya pematung terkenal di Bali, I Nyoman Nuarta patung ini
dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi ikon bagi pariwisata Bali dan
Indonesia. Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah
Dewa pelindung yang mengendarai burung Garuda. Tokoh Garuda dapat dilihat
dikisah Garuda dan kerajaannya yang berkisah mengenai rasa bakti dan
pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang
akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu.
Patung
ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang mengenai jarak pandang sampai
dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah
Lot. Patung GWK ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan
dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton,
dengan tinggi 75 meter dan leher 60 meter.
INSPIRASI PEMBUATAN GWK
Pembangunan patung Dewa
Wisnu (Dewa penyelamat bagi umat Hindu) yang sedang mengendarai burung Garuda
(burung yang sering ada di mitos-mitos) terinspirasi dari kisah Adi Parwa. Dari
kisah ini yang diambil adalah episode Garuda yang memberikan kesetiaan dan
pengorbanannya untuk menyelamatkan ibunya dari belenggu perbudakan. Hal itu
dilakukannya dengan mengabdi kepada Dewa Wisnu, menjadi kendaraan bagi sang
Dewa.
Wisnu - Simbol Hindu yang
melambangkan kekuatan utama pemelihara alam semesta yang mendominasi kawasan
ini. Diwujudkan sebagai patung berukuran raksasa terbuat dari kuningan dan
tembaga dengan ketinggian mencapai 22 meter, menjadikan figur ini sebagai
perwujudan modern sebuah kebudayaan dan tradisi kuno. Wujud yang menyertainya
adalah Garuda - seekor burung besar yang menjadi kendaraan Dewa Wisnu sebagai
perlambang kebebasan sekaligus pengabdian tanpa pamrih.
Gapura Batu - beberapa buah
pilar batu cadas alami setinggi 25 meter yang berdiri kokoh yang akan ditatah
dengan berbagai ornamen yang diambildari kisah dramatis Ramayana yang menjadi sumber
inspirasi seni pertunjukan Bali. Pahatan ukiran latar belakang relief bercorak
seni pahat pewayangan (Kayon atau Gunungan) yang sangat khas Bali dan Jawa .
Nilai yang dapat kita petik dari Dewa Wisnu adalah sifat
Dewa Wisnu yang mengabdi tanpa pamrih dan memelihara dunia.Kita sebagai
generasi penerus bangsa harus meneladani sifat dari Dewa Wisnu dan garuda
merupakan lambing Negara kita,kita juga bisa memetik nilai dari burung
tersebut,kegigihan burung tersebut dalam bertahan hidup.
TUJUAN DAN MANFAAT
DIBANGUNNYA GWK
Adapun tujuan dan
manfaat didirikannya Garuda Wisnu Kencana antara lain :
1.
Tujuan utamanya adalah ”Culture Park” yaitu sebagai tempat pertukaran
kebudayaan seluruh dunia.
2.
Dapat menambah tingkat perekonomian masyarakat daerah sekitar Garuda
Wisnu Kencana.
3.
Dapat menambah penghasilan daerah.
4.
Sebagai objek wisata terbaru di Bali yang dapat menjadi kebanggaan.
5.
Sebagai simbol misi penyelamat dunia.
6.
Sebagai pusat pendidikan bagi masyarakat Indonesia.
FASILITAS YANG TERDAPAT DI
GWK
Dengan curah hujan yang
relatif rendah namun terbuka untuk dapat menikmati hembusan angin tropis,
Fasilitas yang dimiliki GWK menjadi sangat ideal. Amphitheatre dengan kapasitas
800 tempat duduk dan tatanan acoustic kelas satu, merupakan tempat yang tak
tertandingi untuk pagelaran seni budaya. Lotus Pond yang dikelilingi
pilar-pilar batu cadas serta latar belakang patung kepala Burung Garuda
menjadikan areal berkapasitas 7500 orang ini sangat dramatis untuk berbagai
perhelatan akbar. Sebagaimana arena upacara desa-desa di Bali, Street Theatre
merupakan tempat yang sangat tepat untuk berbagai prosesi, fashion show dan
berbagai pertunjukan bergerak. Tempat untuk beramah-tamah yang ideal adalah
Plaza Kura-kura, yang memiliki kapasitas sampai 200 orang. Sebagai tambahan,
yang terbuka untuk umum, Exhibition Gallery yang memiliki luas 200m2 terdapat
10m2 halaman terbuka di dalamnya.
KEISTIMEWAAN
GWK DIBANDING DENGAN ICON LAIN
Sungguh, seandainya burung
itu menjelma menjadi makhluk hidup, ia akan menjadi penguasa angkasa yang tiada
tanding dan tiada banding. Garuda Wisnu Kencana (GWK) direncanakan menjadi
patung tertinggi di dunia, mengalahkan Liberty di Amerika Serikat yang
tingginya 'cuma' 135 meter. Tinggi GWK 70 meter dan ditopang bangunan setinggi
itu pula.
Berdiri gagah di atas bukit
Ungasan, Jimbaran, Bali, areal itu memang diproyeksikan menjadi sebuah kawasan
wisata spektakuler. Pembangunan yang dimulai pada 2005 itu sempat
terkatung-katung. GWK mulai menggeliat lagi setelah pemerintah menegaskan harus
selesai pada 2008.
Pemerintah telah meminta
agar pembangunan GWK dilanjutkan dan diharapkan selesai pada 2008,kata Kepala
Dinas Pariwisata Bali, I Gde Nurjaya, pekan lalu.
Saat ini, patung yang dibuat
oleh I Nyoman Nuarta, seniman asal Bali yang tinggal di Bandung, baru
menyelesaikan bagian kepala burung dan badan Wisnu. Melihat dua bagian itu
saja, sulit membayangkan akan berapa besar patung itu nanti.
I Gusti Rai Dharmaputra,
salah satu pelaku wisata di Bali mengatakan, ide pembangunan GWK datang dari
mantan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Menparpostel), Joop Ave.
Alasannya, Bali membutuhkan
objek wisata bergaya baru. "Karena wisata budaya mau tidak mau memang akan
menjenuhkan. Orang bila disuguhi sesuatu yang sama, lama-lama akan jenuh
juga," ujar rai.
Selain itu, kawasan Bukit
Ungasan yang sebenarnya merupakan wialayah gersang ini juga akan menjadi museum
kebudayaan internasional. Bangunan penyangga patung merupakan gedung berlantai
14, akan digunakan sebagai plaza kebudayaan dari berbagai dunia.
Kesan yan tertangkap saat
memasuki kawasan GWK ialah terasa spektakuler. Bukit kapur yang gersang dibelah
hingga membentuk lanskap ala Romawi. Dinding batu dari bukit-bukit yang terbelah
seolah mengepung pengunjung yang datang. Meski belum jadi, GWK sudah berhasil
merebut hati banyak wisatawan.
Hampir seluruh wisatawan,
khususnya wisatawan asing, seolah wajib datang ke GWK. Padahal baru selesai
sekitar 40% saja," tambah Rai. Setelah sekian lama bersemayam di atas
bukit itu memang mulai menggeliat kembali. Semoga saja 2008 nanti bentangan
sayap dan tajamnya sorotan Garuda itu benar-benar mengemparkan dunia.
Disekitar lokasi, nampak
jelas bebatuan cadas/karang di potong secara vertikal membentuk dinding-dinding
tribun dengan hamparan rumput hijau pada bagian dasarnya.
Bagian tengah sebuah jalan
terbuat dari conblock membelah lapangan rumput dari bagian paling belakang
hingga kedepan patung garuda. Dari luas yang ada nampak sekalibahwa area ini
akan sanggup menampung puluhan ribu pengunjung, sangat cocok digunakan sebagai
tempat pertunjukan sentra budaya berskala internasional.
Pembangunan patung berupa
Dewa Wisnu (Dewa penyelamat bagi umat Hindu) yang sedang mengendarai burung
mitos, Garuda, terinspirasi dari kisah Adi Parwa dalam episode Garuda dengan
kesetiaan dan pengorbanannya menyelamatkan ibunya dari belenggu perbudakan
dengan mengabdi kepada Dewa Wisnu menjadi kendaraannya. Kisah mengenai legenda
ini terpahat jelas di sisi-sisi Candi Kidal yang berada di kabupaten Malang.
Patung Garuda Wisnu Kencana
diharapkan akan merangsang dinamika nilai phisik dan spiritual, serta
keseimbangan antara skala dan niskala (dunia nyata dan tidak nyata) dengan
demikian harmonisasi alam dapat tercipta. Patung Garuda Wisnu Kencana adalah
symbol misi penyelamatan lingkungan dan penyelamatan dunia.
Cah
Ayu Art Shop
Cah Ayu adalah pusat oleh- oleh makanan khas Bali
yang didirikan pada tanggal 27 September 2002. Central oleh- oleh Cah Ayu ini
terletak di lintasan pariwisata (daerah Pasar Seni Sukowati ). Tempat ini didirikan
oleh seseorang anak desa terpencil di daerah lereng gunung di Jawa Tengah,
bernama Robani. Awalnya beliau hanya bermodal tekad, ketekunan, dan
keterampilan dalam mendirikan Cah Ayu pada tahun 90-an dengan mencoba mengadu
nasib di Pulau Bali. Sekarang, Cah Ayu menjadi salah satu tujuan para wisatawan
yang datang ke Bali. Di Cah Ayu, terdapat berbagai makanan khas Bali seperti
berbagai jenis kacang asin Bali. Cah Ayu bertujuan untuk melayani wisatawan
nusantara maupun mancanegara yang berkunjung ke Bali. Cah Ayu membantu
memasarkan produk pengrajin kecil sehingga dapat hidup dengan layak. Robani
sekaligus membantu pemerintah untuk ikut serta mengurangi pengangguran dan
pengembangkan industri pariwisata, serta menambah income daerah maupun Negara.
Hutan Sangeh
Taman Wisata Alam Sangeh, terletak di Desa Sangeh, Badung, Bali, sekitar
20 km di sebelah utara Denpasar, di seberang jalan menuju Pelaga.
Daya tarik dari objek wisata ini adalah pura yang terletak di
tengah pohon pala yang disebut dengan Pura Bukit Sari.Hutan pohon
pala merupakan areal suci pura yang dikeramatkan oleh masyarakat
Desa Adat Sangeh. Di tengah hutan lebat yang hijau
terdapat banyak kera jinak yang sering mempesona para
wisatawan.
Dahulu , Kera-kera Sangeh dikenal sangat liar dan seringkali mengganggu para
pengunjung. dikenal sangat jahil, karena seringkali mengambil barang-barang
pengunjung , namun anehnya akan dikembalikan bila diberi sepotong makanan.
Namun sekarang mereka telah diajari sopan santun , tidak lagi seliar dan
sejahil dahuluKera Sangeh ibarat juga memiliki suatu kerajaan , mereka hidup
berkelompok kelompok, setiap kelompok masing-masing memiliki satu pemimpin. dan
dari kesemua kelompok mempunyai pimpinan teringgi . Pemimpin tertinggi ini
berdiam ditempat yang paling luas . Ditempat raja kera ini tinggal terdapat
sebuah Pura Yang sangat terkenal kesakralannya yaitu Pura Bulit Sari.Aturan di
kerajaan ini seperti layaknya kerajaan betulan, sang pemimpin harus
didahulukan, misalnya mengawini kera betina, pembagian makanan dan lain
sebagainya.
Cerita lainnya, Sebuah pura kecil diselimuti lumut hijau tersembunyi
disela-sela hutan pala yang menjulang tinggi itu. Di punggung sebuah tugu pura
tersebut di pahat patung Garuda, seekor burung mistik yang di dalam cerita
Samudramantana dikisahkan sedang mencari tirta Amerta di dasar samudra,
kemudian atas jasanya oleh Betara Wisnu, dihadiahkan seteguk kepadanya,
akhirnya Garuda menjadi kendaraan setia Bathara Wisnu.
Legenda lain menceritakan bahwa penghuni hutan tersebut adalah prajurit
kera yang kelelahan di dalam pertempuran membunuh Rahwana. Kera-kera itu jatuh
bersamaan dengan bungkahan gunung dan hutan yang dipakai menghimpit tubuh
Rahwana kemudian menetap di hutan itu. Cerita lain lagi, juga mengatakan bahwa
seorang putri kerajaan Mengwi bernama Mayangsari yang sedang kasmaran, gagal
bertunangan, akhirnya melarikan diri ke hutan terdekat dan menjadi seorang
pertapa.
Di dalam pelariannya itu dia tidak memakai sehelai pakaian pun, sehingga
harus memakai rambutnya yang panjang untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling
terlarang. Dia gagal mewujudkan impiannya dan meninggal secara gaib. Masyarakat
setempat percaya, bahwa dewi itu kini menjadi Bethari Mayangsari.
Hutan wisata Sangeh banyak ditumbuhi tanaman pala
(dipterocarpustrinervis). ada yang berumur ratusan tahun. Konon Raja Mengwi
memerintahkan secara rahasia membuat taman dengan tanaman Pala. yang khusus
didatangkan dari Gunung Agung. Perintah rahasia membuat taman akhirnya bocor
ada yang melihatnya, sehingga raja memerintahkan untuk menghentikannya. dan
kawasan itu disebut Sangeh yang artinya ” ada yang melihat”
Selain pohon pala, masih ada tanaman yang terkenal di hutan Sangeh.
Masyarakat setempat biasa menyebutnya Pohon Lanang Wadon, karena bagian bawah
pohon itu berlubang sehingga menyerupai alat kelamin perempuan, sedangkan di
tengah lubang tersebut tumbuh batang yang mengarah ke bawah yang terlihat
seperti alat kelamin pria. Pohon itu tumbuh persis di pelataran depan tempat
wisata Sangeh dan sebenarnya merupakan pohon pule. Di Bali, pohon pule memiliki
banyak keistimewaan karena kayunya sering digunakan untuk keperluan khusus,
misalnya, membuat topeng yang dipakai sebagai sungsungan. Dikawasan ini dapat
dijumpai kios tempat menjual beraneka ragam cinderamata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar